Langsung ke konten utama

BUALAN


Sebenarnya tak ada yang perlu dirisaukan tentang ku. Saya bukan lelaki penganut bualan kata manis, tapi lumpuh praksis. Upaya membahagiakan-mu adalah perkara memotong waktu. Serupa membabat gerembolan rumbut liar dari halam rumah mu. Saya cukup membutuhkan parang kecil serta kelincahan gerak saja. Kamu tak perlu mengajari ku tentang hal-hal terkait pembuktian setiap kalimat yang ku lontarkan di malam itu. Sebab semua tentang ku adalah sejarah penaklukan. Termasuk kemampuan ku menaklukan jiwa subtil mu kandas di bawah kelenturan lidah ku. Bukankah dahulu saya adalah pribadi yang membuat mu gemas, meski sekedar berbisik dikuping mu.
Nampaknya kamu lupa, ketika saya dan dirimu melepas penat di sebuah warung makan, diringi suara parau pengamen jalanan. Saat itu saya hadir membuktikan kata dan janji ku tepat waktu. Walau memang urusan percintaan kita kali ini datang tak tepat waktu. Selalu ada penyesalan terselip dalam percakapan kita. Seperti ketika kamu mengatakan ‘’duh sayang ya.. nanti saat ini kita baru ketemu’’, atau dengan kalimat: ‘’coba saja kemarin kamu datang’’. Ah tak mengapa gumam ku, toh Hidangan Mie-Titi ini rasanya selalu sama, tak banyak yang berubah. Kecuali cara mu memperlakukan-ku, seolah saya adalah lelaki yang baru pertama kali pacaran. Sama seperti  kamu mengomentari  pengalaman ku menyantap mie titi itu.
Ah sudahlah, barangkali kamu butuh istirahat panjang, menenangkan pikiran mu, agar besok pagi pulih memanggil kenangan itu. Moment di mana kamu merasa diperlakukan sepantasnya dan sehormat-hormatnya.[]

Komentar