Langsung ke konten utama

Postingan

Islam dan Jejak Kolonial

    H ampir semua hal di I ndonesia memiliki rujukannya dengan agama. Agama nyaris mengatur pernak perrnik di republik ini. Semua dipandang memiliki landasan syariah yang mesti dipatuhi oleh mereka yang meresa paling berhak. Dalam hal ini berhak menentukan batas keyakinan atau keimanan seseorang. S ejumlah kalangan bahkan tak jarang memasukan syariat sebagai pedoman dalam tata pemerintahan. Di negara ini jika Anda berseteru dengan ' mereka ' maka terimalah nasib A nda dipandang sebagai individu atau golongan yang tak layak mencium wangi surga. Sangksi ilusif itu panatas diperoleh karena telah menistakan Islam ke tempat paling buruk. Simak saja, perkara memilih sendal jepit bisa ramai diributkan karena dinilai memilki lafadz A llah. B ahkan temuan  plat cetakan Alquran untuk cetakan panggangan kue dibuat heboh. Busana A gnes monica beraksara arab dan sajadah/karpet shalat yang digunakan untuk menari di acara Hari Amal Bakti ke 70 Kementerian Agama DKI Jakarta pu...

Bukan Khotbah Jumat

    Apa yang sesungguhnya terjadi ketika sebagian eksperasi orang islam di Indonesia saat ini terlampau sentimentil ketika bersingungan dengan sesuatu yang dilekatkan pada citra islam. Mulai dari urusan KTP, transportasi, Hotel, Patung, orintasi seksual, busana, hingga urusan sendal, semua dilihat secara agamais. Tentu ini tidak salah, namun ketika membincang hal itu dengan sikap emosi dan tidak mengedepankan sikap toleraan, penghakiman atas kepercayaan sesorang atau kelompok agama atau ajaran lainya, itu yang mesti diperiksa, apakah wajah islam seperti inikah yang diajarkan oleh rasulullah? Saat perbedaan pandangan mesti terselesaikan dengan kemarahan bukan keramahan.    Sosial media adalah ruang paling ribut membincangkan semua yang terkait ataupun yang sengaja mengaitkan dengan urusan moral purba manusia, yaitu perkara berkeyakinan . Sentimen 'islam' bagi mereka yang terlampau meyakini ajaran moral mereka paling benar merasa berhak angkat b...

Semacam Catatan Akhir Tahun

         2015 adalah tahun tidak produktif menulis.   Di blog saya hanya tercatat   tidak kurang 15 tulisan. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Kemalasan menulis berbanding lurus dengan kuantitas buku yang saya baca. Jika dikalkulasi dalam setahun ini, saya hanya tuntas   membaca   tidak kurang 13 judul buku. Ya benar, judul buku. Sungguh prestasi yang memalukan. 2015 adalah tahun paling sentimentil. Menguras emosi. Tidak saja isi otak tapi juga isi dompet.   Untuk urusan terakhir ini saya beberapa kali melewati kesempatan memiliki sejumlah buku favorit. Saya menghabiskan banyak waktu sekedar mondar mandir memilih kampus di sejumlah kota. Urusan mencari, menungu hingga mempersiapkan diri jika dipanggil mengikuti seleksi wawancara, kadang berbuah letih dan malas berkepanjangan, walau sekedar membaca buku dalam arti sesugguhnya, bukan membaca melalui gejet yang bekakang rutin saya jalani.   Akhirnya saya kapok ikut ikutan m...

Peluang

Pilihan bekerja di Jakarta adalah pilihan paling pelik. Sejumlah persoalan terkait rutinitas kota ini serupa cobaan hidup tak pernah berkesudahan. Energi warga Jakarta nyaris tak pernah habis   membahas kemacetan   di hampir semua ruas Jalan. Pesona Jakarta memang masih berdenyut kuat memanggil orang orang   di luar Jawa memilih kota ini sebagai arena kontestasi melawan derasnya   himpitan pertumbuhan ekonomi serta angka penagguran usia produktif yang terus meningkat. Sejak pertegahan Ramadhan 2015 saya sudah berada di Jakarta. Nyaris tak ada pilihan selain bertaruh memprediksi nasib, berekal ijazah S2 yang ku kantongi.   Semua kampus yang   memiliki program studi Ilmu Komunikasi di Jakarta, ku jajaki satu persatu memasukan lamaran sebagai dosen tetap. Alamdulliah hanya menggu kurang lebih sebulan, kabar gembira   perihal selesksi dosen, mulai ada kejelasan.   Universitas Indraprasta adalah Kampus   pertama   menerima saya meng...

Ben Anderson…

Masih tentang Ben Anderson. Hari itu menjadi hari paling saya sesali dalam hidup,   ketika tahu Ben memberikan kuliah tamu di FIB   UI, tapi di saat bersamaan saya wajib menghadiri kegiatan pengabdian masyarakat sebuah SD di kota Bogor.   Kesempatan melihat langsung sosok scholar yang tercatat memiliki reputasi terkemuka   di bidang kajian   politik-pemerintahan itu harus ditukar dengan rutinitas lainya. Tiga hari sebelum mendapat tugas dari pimpnan Prodi, saya sudah menyiapkan diri, termasuk menghubungi teman yang bisa diajak saat itu. Jika diibaratkan meyaksikan langsung Ben Anderson memberikan kuliah, serupa mendapatkan hadiah malam Lailatul Qadri, ganjaran pahala seribu bulan.  sumber foto: news.babe.co.id Sebuah berita   pada Minggu malam di sosial media mengabarkan kematian Ben Anderson, sesuatu yang awalnya sukar dipercaya.   Tetapi, faktanya memang adanya, penyesalan bercampur kesedihan sesaat menyeruak di benak. Saya buk...

Resume Buku Teori Budaya, karya David Kaplan dan Robert Manners

Antropologi “ metodologi dan pokok soal dalam penyusunan teori” Pada pembahasan awal Buku karya Kaplan dan Manners yang bertajuk teori budaya ( the teory of culture ) mengetengahkan masalah mendasar Antropologi sebagai suatu bidang pengetahuan yang mendisiplinkan diri dalam kaidah ketat epistemology,   pada akhir abad sem bilan belas. Menurut keduanya, pokok –pokok problem yang diperhatikan Antropolog dapat diringkas menjadi dua pertanyaan besar yang saling terkait, yaitu   pertama, bagaimanakah berkerjanya berbagai system budaya yang berbeda-beda? kedua, bagaimanakah sistem-sistem budaya yang beraneka ragam itu   mendapat tempat seperti saat ini? (Kaplan &Manners hal 2)                 Problem mendasar dalam uraian akademis yang dikemukakan oleh Kaplan dan Manners tersebut,   merujuk pada pemahaman mengenai perbedaaan   pada setiap budaya, baik dari segi ruang maupun...