Total Tayangan Laman

Jumat, 08 April 2011

Jejak Diaspora Melayu di Makassar

Masjid Makmur Melayu


Siang itu langit masih seperti kemarin. Cukup cerah. Kumpulan awan terlihat bagai kapas yang berserakan di permukaan karpet biru muda. Kawasan Makassar tua yang padat penduduk ini terlihat tak terbendung, meski arus kendaraan satu arah telah menjadikannya khusus. Badan jalan yang menghubungkan pelabuhan Soekarno Hatta itu penuh sesak kendaraan roda empat. Dari arah utara beberapa kendaraan ‘dipaksa’ mengurangi kecepatannya, lalu menerima nasibnya, ‘membeku’ tanpa gerak sedikitpun. Sahutan kelakson bertalu nyaring bergantian, menggenapi kebisingan di jalan itu. Konsentrasi para pengemudi terpaku pada satu titik kemacetan akut akibat ulah pengendara yang mengambil separuh ruas jalan, yang kemudian seenaknya memarkir tepat di depan penjual bahan natura. Inilah biangkerok kemacetan itu. Di sudut jalan, saya alihkan motor bebekku lalu berhenti di tepi ruko jingga. Mengambil jedah sambil memperhatikan deretan panjang mobil yang belum juga cair dari kebekuannya.
Beginilah Jalan Sulawesi di siang hari. Padatnya kendaraan nyaris setara dengan kepadatan jejeran ruko di kawasan itu. Bagi sebagian warga Makasar jalan ramai ini sangat akrab di telinga penduduk Kota Daeng, khususnya bagian Barat Makassar. Sebutan Pecinan (China Town) disematkan pada kawasan pemukiman (warga keturunan) ini. Ruko-ruko tinggi berdekorasi maditerania berjejer saling berhadapan. Beberapa pintu ruko masih setia pertahankan identitas Tionghoanya. Di ruko jingga ini misalnya, sebuah arca berukuran mini berbalut kain merah dan beraksara China, terpajang pada pintu masuknya.
Strategi Belanda ini ternyata bertujuan mempertahankan wilayah Selat Makassar agar tetap ramai setelah redup pasca eksodus orang Melayu dari Makassar


Nuansa Tionghoa tak terelakkan pada kawasan ini. Jejeran papan nama toko ber-neon box, ramai bergelantungan. Begitu pun pajangan kotak reklame, menempel nyaris di setiap sudut atas tempat usaha warga. Mataku terpaksa menengadah. Saya pun mulai digoda oleh khayalan. Mencoba memindahkan aura Mandarin ini ke film-film Hongkong yang kerap saya santap saat kuliah dulu. Lansekap yang nyaris serupa: hiasan gedung yang didominasi warna merah dan kuning, jejeran neon box beraksara China, patung singa, klenteng, toko-toko dan keramaian yang diciptakannya. Saya tinggal membayangkan ada aksi kejar-kejaran yang sengit, meloncat dan berguling di kap mobil yang bergerak. Pokoknya, persis adegan action ala Triad yang menegangkan.


Kawasan Pecinan memang lain. Pesonanya khas. Bagai urat nadi, tiap tahun Jalan Sulawesi menjadi rute utama pusat peribadatan warga keturunan Tionghoa. Ketika “Cap Gome” Februari lalu, saya sempat menyaksikan parade barongsai di pemukiman berbau dupa ini. Namun kedatanganku bukan bermaksud belanja bahan bangunan yang mendominasi mayoritas pedagang di sini atau menyimak tarian khas China. Perjalananku kali ini ingin menyapa salah satu entitas etnik lain, penduduk lama di daerah yang tak jauh dari Fort Rotterdam.

Sebelum bertandang ke lokasi, saya telah mengantongi informasi penting terkait kompleks ini. Informasi itu menyebutkan tentang sebuah monumen yang nyaris tercerabut dari akar historis. Di tempat ini selain terkenal sebagai salah satu pemukiman terbanyak warga Tionghoanya, ternyata masih menyimpan khazanah syiar Islam di bumi Makassar. Monumen berupa masjid kuno peninggalan abad ke 17 masih setia meramaikan semangat pluralisme dan harmonisasi di kawasan pecinan ini.

Kerja keras ayah Unais membangun kembali masjid leluhurnya itu membuahkan hasil. Dibangun dari bahan-bahan yang layak pakai, Masjid Makmur Melayu akhirnya dapat kembali berdiri, meski hanya berdinding daun rumbia

Riwayat Masjid Melayu Makassar

Secara administratif kawasan Pecinan di Jalan Sulawesi dan sekitarnya, ternyata masuk wilayah Kelurahan Melayu Baru. Di kampung inilah masjid peninggalan Datuk Ribandang itu dibangun. Dahulu kala –sekitar abad ke 17- orang melayu adalah pemilik sah kompleks ini. Fakta tersebut dibuktikan dengan hadirnya Masjid Melayu pertama di Makassar. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa Datuk Ribandang, nama lain dari Khatib Tunggal Datuk Makmur, ulama besar pembawa syiar Islam di Sulsel. Atas dasar inilah Rumah Allah itu diberi nama Masjid Makmur Melayu. Bangunan dua lantai bercorak hijau gelap itu masih setia berdiri kokoh dan berwibawa hingga sekarang. Masjid berkubah keemasan ini berada di lintasan Jalan Sangir dan Jalan Sulawesi. Dari tempat saya berpijak inilah kujejali riwayat melayu tempo dulu yang tak sedikit masih menyimpan tanya.

Menelusuri jejak orang melayu di Makasar relatif mudah. Memulai dari masjid yang memiliki takaran sejarah yang tinggi ini, saya menyusuri diaspora Islam di bumi Anging Mammiri ini lewat teropong


historis Masjid Makmur Melayu. Sebelum menunaikan sholat dzuhur saya masih bersandar pada pagar besi masjid. Jarak antara pagar berukir kembang itu dengan badan jalan diperkirakan hanya lima meter dari tempat saya berdiri. Bangunan dua lantai berpadu corak hijau lembut itu persis berdiri di bibir jalan tanpa lahan parkir. Tak heran, Masjid Melayu kini terjepit di antara bangunan ruko di sekitarnya.

Dalam riwayatnya, masjid tersebut dirintis oleh seorang ulama asal Minangkabau, salah satu rumpun Melayu terbesar di Nusantara. Dari tangan ulama ini Islam disyiarkan sebagai agama

Ornamen khas Jalan Sulawesi. (Foto: Ariane Mays. Tanggal: 10 Februari 2010)
Kerajaan Gowa. Catatan sejarah ini dikisahkan langsung oleh ketua pengurus masjid yang juga masih memiliki darah Melayu. Usai sholat saya menghampiri lelaki lansia bernama lengkap Haji Ince Muhamad Unais Hasan, Anak dari Imam Ince Muhammad Hasan, seorang ulama yang berkontribusi bagi pembangunan masjid ini. Nama depan “Ince” adalah identitas yang dilekatkan pada orang Melayu, seperti tertera pada nama lelaki santun itu. Ia pun bercerita, cikal bakal berdirinya masjid ini tidak lepas dari sepak terjang leluhurnya. Berikut catatan yang masih terimpan utuh dalam ingatan lelaki melayu itu.

Awalnya Kerajaaan Goa-Tallo yang dikenal sebagai kerajaan kembar di masanya itu cukup tersohor sebagai bandar laut dan pusat perniagaaan teramai. Kesohoran ini terdengar jauh, menjangkau hingga ujung Sumatera. Bagai gula di atas piring, penjelajahan orang Melayu pun tersedot ke kerajaan kembar ini. Pelayaran dengan maksud berdagang ini terikut pula misi penyebaran Islam di Makassar. Haji Ince menambahkan, tiga orang ulama asal Minangkabau berhasil memberi warna baru bagi kepercayaan masyarakat yang mulanya berkeyakinan animisme. Adalah Khatib Tunggal Datuk Makmur atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang, Khatib Sulung Datuk Sulaiman dikenal Datuk Patimang, dan Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk Ditiro. Merekalah yang pertama mengislamkan Raja Tallo.

“Ketiga datuk ini mengislamkan Raja Tallo ke-VI, I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka atau Sultan Abdullah Awalul Islam. Raja inilah yang merupakan orang pertama di Sulsel yang memeluk agama Islam pada tahun 1605. Kemudian menyusul Raja Gowa ke-XIV, I Manga'rangi Daeng Manrabbia yang bergelar Sultan Alauddin,” jelas lelaki berpeci hitam itu.

Percakapan saya dan imam terakhir keturunan Melayu ini begitu akrab. Canda tawa sesekali menyemangati lelaki yang mulai senja itu. Tatapan matanya mengisyaratkan kedalaman pengetahuannya. Kehadiran saya seolah menguji memorinya; ingatannya berusaha berdamai dengan usianya yang sudah udzur. Meski demikian dari beliaulah saya peroleh informasi, Tallo sering disebut sebagai pintu pertama Islam di daerah ini atau dalam Bahasa Makassarnya ”Timunganga ri Tallo”. Raja Gowa mengumumkan, agama resmi kerajaan Gowa dan seluruh daerah taklukannya adalah Islam. Seraya menambahkan, awalnya Datuk Ribandang sendiri bersama kawannya dilihat oleh rakyat Kerajaan Tallo sedang melakukan shalat Ashar di tepi Pantai Tallo. ‘Penampakan’ ini kemudian menjadi salah satu versi tentang muasal munculnya penamaan Makassar, yakni dari kata “Makkasaraki Nabbita”. Pendapat ini tak sedikit mendapat sanggahan dari banyak ahli sejarah Makassar. Mereka cukup menghadapkan pendapat ini dengan kenyataan, nama Makassar sudah lama tertulis dalam naskah kuno Jawa, Negara Kertagama, yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1364. Naskah itu juga menyebut nama Luwu, Bantaeng, dan Selayar.

Untuk memperoleh keterangan mendalam tentang jejak melayu di Makassar saya telah mengkoleksi sejumlah data dari dunia maya. Salah satunya dari seorang jurnalis keturunan Melayu yang menulis di sebuah media online di Makassar. Ince Dian Aprilyani Azir namanya. Dari catatannya yang (ternyata) telah lama didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul “Sejarah Keturunan Indonesia Melayu” (Disusun oleh Kerukunan Keluarga Indonesia Melayu [KKIKM]. Buku yang diterbitkan pada 1986 itu memaparkan, sebelum kedatangan tiga alim ulama itu, kawasan ini telah dijejaki oleh seorang pedagang muslim asal Melayu bernama Datuk Nahkoda Bonang. Saat itu Kerajaan Gowa dipimpin oleh Raja Gowa ke-X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565). Hubungan mereka sangat akrab dan bersahabat. Hal ini dibuktikan dengan pemberian cindera mata dari Nahkoda Bonang berupa sebilah bedil bernama Kamaleti, 80 perangkat pinacu, 1 blok/pis kain cokelat, 1 pis kain beludru, dan setengah kodi cinde. Dalam kesempatan itu pula, si Datuk mengajukan empat permintaan: 1) orang lain di luar Melayu jangan sampai memasuki kampung; 2) menaiki rumah; 3) mengurangi anak; dan 4) merampas harta mereka.


Keesokan harinya ‘temuan’ ini saya konfirmasikan ke Haji Ince Unais. Ternyata beliau mengenalnya bahkan memiliki hubungan keluarga dengan Ince Dian Aprilyani. Dari mulut putra Imam Ince Muhamad Hasan, seorang imam karismatik Masjid melayu yang berkontribusi pada pembangunan tempat ibadah ini, membenarkan, Datuk Nahkoda Bonang orang Melayu pertama yang menginjakan kaki di tempat ini.

Sayang, kakek berparas teduh yang juga imam tertua di masjid ini harus mengerut kening sambil sesekali mematung, memanggil kembali ingatan masa lalunya perihal sepak terjang Datuk Nahkoda Bonang. Berpikir dan terus berupaya menemukan celah terkait nama itu. Usahanya kandas. Wajar, usianya sudah tidak muda lagi.

Demi menghibur rasa kecewa –yang mungkin tergambar di air muka saya, kakek berusia 67 tahun ini mengajak saya ke rumahnya yang tak jauh dari masjid. Di rumahnya yang asri, ia memberikan sebuah naskah tipis terkait sejarah kedatangan orang Melayu di Makasssar. Perlahan naskah berbentuk fotokopian itu saya baca. Lumayan sulit. Rupanya ejaannya menggunakan bahasa tuturan Melayu. Beruntung Haji Ince Unais bersedia membantu saya memahami buku kecil itu. Informasi yang sempat saya himpun menyebutkan: Admiraal Speelman pemimpin tertinggi perwakilan pemerintah kolonial di Makassar berinisiatif mendatangkan kembali orang Melayu ke Makassar. Siasat pihak kolonial berbuah hasil. Dengan menggenggam janji dan restu Raja gowa kala itu, orang melayu yang ada di beberapa pulau di Nusantara dipanggil kembali. Strategi Belanda ini ternyata bertujuan mempertahankan wilayah Selat Makassar agar tetap ramai setelah redup pasca eksodus orang Melayu dari Makassar.


Sebelumnya, dalam buku pemberian Haji Unais itu menyebutkan, seorang mangkubumi (perdana menteri) di Makassar bernama Tumenanga Ri Ujung-Tanah Karaeng Karunrung dahulu meminta agar orang-orang Melayu tak perlu mencampuri urusan domestik kerajaan. Pernyataan pihak kerajaan cukup beralasan, pasalnya pihak Kerajaan Gowa mengalami kekalahan saat perang melawan Kompeni Belanda. Sementara posisi orang Melayu mendukung penuh perjuangan Kerajaan Gowa. Dukungan Melayu tersebut justru berakibat buruk bagi pihak kerajaan. Atas alasan itulah penguasa gowa memulangkan mereka karena terlampau ikut campur urusan kerajaan.

Perintah bernada pengusiran itupun segera ditanggapi masyarakat melayu. Mereka pun hengkang dari Makassar. Eksodus orang Melayu menyebar di beberapa pulau di Nusantara yang cenderung belum terhuni. Di antaranya Banjarmasin, Kaili, Kutai dan Masalambu. Tapi ada seorang Melayu yang cukup ‘bandel’, tidak mau tinggalkan Makassar. Namanya Ince Tangke. Ia justru memilih membuka hutan di kawasan daerah Maros, tepatnya di daerah Banta-Bantaeng, dan mendirikan perkampungan Melayu di sana.

Keterangan dalam buku itu disempurnakan oleh Haji Unais. Menurutnya lokasi masjid ini dulunya adalah hutan, barulah pada kedatangan dua orang melayu yang berniat suci mensyiarkan agama Islam, lokasi ini perlahan mulai ramai. Berbekal persetujuan pihak Kerajaan Gowa mereka mulai membuka lahan dan mendirikan sebuah perkampungan yang diberi nama Kampong Melayu. Secara inistaif mereka lalu mendirikan sebuah masjid pada tahun 1740. Tapi, sebelum Masjid Makmur Melayu dibangun pada tahun 1740, di tempat itu mulanya adalah madrasah yang didirikan Datuk Ri Bandang bersama dua rekannya. Madrasah ini difungsikan untuk mendidik penduduk di sekitar lokasi tentang agama Islam. Sekaligus menjadi tempat mengislamkan orang yang ingin memeluk agama Islam.

Setelah Datuk Ri Bandang mengislamkan Raja Gowa ke-XIV, I Manga'rangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin, mereka pun mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Katangka. Terletak di Kabupaten Gowa, masjid yang masih awet hingga sekarang itu tercatat sebagai masjid pertama di Sulawesi Selatan. Meskipun demikian, sebelum masjid itu didirikan ternyata madrasah peninggalan Datuk Ribandang merupakan tempat pertama kali dijadikan pusat kajian Islam. Setelah beliau wafat, madrasah hasil buah tangannya lalu dibanguni masjid dengan nama Masjid Makmur Melayu, tahun 1760. Penunjukan lokasi pembangunan masjid ini melibatkan jasa seorang Melayu yang dipekerjakan pada pemerintah Belanda. Ince Ali Asdullah atau Datuk Pabean namanya. Beliaulah yang memastikan bahwa lokasi tersebut cukup startegis untuk didirikan masjid.

“Datuk Ribandang adalah orang melayu pertama yang mendirikan madrash di tempat ini. Setelah itu ia lalu pergi berdakwah hingga masuk ke Kerajaan Gowa dan mengislamkan rajanya dan penduduk di sana. Nanti setelah ulama itu wafat keturunannya mulai merintis pembangunan masjid untuk mengormati jasa leluhur kami,” ungkap Unais.

Awal mula masjid ini dibangun sangat sederhana. Terbuat dari anyaman bambu dengan luas kurang lebih 21x20 meter. Kisah dari masjid ini masih terus mengalir dari mulut Haji Unais. Menurutnya, pada tahun 1943 ketika Jepang menguasai Makassar, perang kota terus berkecamuk. Perlawanan rakyat tak kuasa terbendung. Sebagian wilayah Makassar porak-poranda dibombardir pasukan udara Jepang. Tak terkecuali masjid bersejarah ini, hancur serata dengan tanah. Warga perkampungan Melayu terpaksa mengungsi ke sejumlah daerah. Bahkan ada sampai ke sebuah pulau, bernama Barang Lompo.

Pada saat perang melawan Jepang, imam masjid dipangku oleh H. Ince Muhammad Hasan. Pasca pengeboman, perlahan-lahan masyarakat Kampung Melayu merekonstruksi Masjid Makmur Melayu. Kerja keras ayah Unais membangun kembali masjid leluhurnya itu membuahkan hasil. Dibangun dari bahan-bahan yang layak pakai, Masjid Makmur Melayu akhirnya dapat kembali berdiri, meski hanya berdinding daun rumbia.

Tahun 1948, tembok masjid direhab. Dindingnya dikonstruksi kokoh berbahan dasar tiga lapis batu kali. Tahun 1982, masjid ini dipugar kembali. Jika sebelumnya hanya berlantai dasar, kali ini pihak pengelola membangun lantai atasnya untuk ditempati jamaah wanita. Biaya pembangunan tersebut sepenuhnya berasal dari swadaya masyarakat. Termasuk bantuan dari masyarakat Tionghoa.

Bedug Masjid


Cukup sulit untuk menemukan peninggalan Melayu kuno pada masjid ini. Akibat terjangan bom pada tahun 1943 nyaris tidak ada satupun benda bersejarah yang masih bertahan. Hanya sebuah bedug yang sempat terselamatkan; pemberian dari Raja Bone. Bedug inilah satu-satunya peninggalan bersejarah masjid ini yang masih orisinil dan tersimpan. Konon, usianya setara dengan dibangunnya masjid. Menurut Ustadz Abdul Waris Farid, salah seorang pengurus masjid yang masih memiliki darah Melayu ini mengatakan: “Material bedug ini terbuat dari pohon lombok. Belum lama ini pihak pemerintah berniat membelinya namun pengelola masjid belum rela melepasnya ke pihak manapun”.

Secara fisik bedug bercorak merah gelap ini sudah tidak utuh bentuknya. Bagian yang biasa digunakan untuk ditabuh sudah robek, menganga. Robekan ini bukan lantaran sering ditabuh, tapi akibat terjangan bom Jepang yang membuat benda ini terlempar kuat, jatuh dan tergeletak di tepi pantai kala itu.

Nampak samping. "Pemberian Raja Bone". (Foto: Nur Allan. Tanggal: 9 Mei 2010)
Bedug ini memiliki kembaran, terbuat dari bahan yang sama, tersimpan baik di Masjid Katangka, Kabupaten Gowa. Yang memberinya pun dari Raja Bone yang telah memeluk Islam ketika itu. Tidak ada yang tahu persis, siapa Raja Bone yang baik hati itu. Pengurus Masjid Katangka dan Masjid Makmur Melayu pun belum dapat memastikan Raja Bone ke berapa yang menghadiahkan bedug pada dua masjid bersejarah di Makassar itu. Melengkapi penyusuran saya di Masjid Makmur Melayu, Raja Bone misterius ini berhasil memancing rasa penasaran saya. Untuk mengobatinya, saya pun meluncur di google, memelototi sejarah dan silsilah Raja-Raja Bone. Hasilnya? Cukup mengecewakan. Saya cuma bisa memprediksi, dari angka tahun yang saya cocokkan dengan era dibangunnya Masjid Makmur Melayu pertama kali, Raja Bone yang berkuasa di tahun 1760 adalah La TemmassongE To AppaingE Sultan Abdul Razak Matinroe Ri Malimongeng, Raja Bone ke-XXII

Kini masjid yang semakin terlihat mungil itu –lantaran ramai dikerumuni rumah toko yang bertingkat-tingkat, rencananya akan direnovasi lagi. Dari pojok kiri masjid saya mengamati desain baru bangunan bersejarah ini. Saya cukup terkejut melihat model rancangannya. Dari fasade-nya (tampak luar, depan) terlihat seperti kuil atau kelenteng. Dalam benak saya, meskipun masjid ini memang tidak orisinil, tapi identitas Melayu yang dilekatkan pada Masjid Makmur Melayu selama ini lambat laun akan pupus terhapus jaman. Peninggalan monumental Melayu di Makassar terancam akan senyap dari situs sejarah Makassar … lalu lenyap begitu saja di setiap anak yang lahir kemudian.




Kalau kota ini berniat beranjak menjadi kota dunia, mungkin tidak salah jika diingatkan untuk terlebih dahulu mengapresiasi dan menghargai setiap jengkal peninggalan sejarah masa lalu, dengan cara mengikutkannya pada peran dan posisi perubahan jaman, tanpa mencabut fungsi dan identitas sebagai ruhnya. [V]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar